Jan 16, 2011

awak,sangat sempurna.saya suka, :)



benda yang kita rasa baik,kadang cuma sementara.sangat sementara.

"awak,saya ada masalah," pertanyaan yang sangat simple,sangat ringkas,dah menjadikan cerita yang berangkaian--panjang.

"saya dah clash,i need someone to hear my problem,and i guess that someone is you,"

Si Telinga ni tanpa fikir panjang,tanpa rasa tak perlu nak mukaddimah panjang-panjang,lantas menerima masalah yang makin mencurah-curah ke lubang telinga nya yang kecil,dan gelap.(bak kata bella,telinga pun berak,)

mendengar,dan teruskan mendengar,
"saya tak ada sesiapa,melainkan awak.saya perlukan semangat awak,dorongan awak.saya perlukan awak," sambil memberi keizinan kepada tangisan untuk bercakap.

Si Telinga, orangnya masih tak matang,mentah,jarang fikir panjang,baginya,masalah orang biar jadi makanan siang,masalah dia,biar sendiri yang memanggang.

mungkin,dalam senyapnya,Si Telinga masih tak sedar,masih tak sedar dia sukakan Si Mulut, dia tak sedar,kerna kupingnya diberi pinjam kepada Si Suara,yang jauhh juga nun di sana.

tapi setelah beberapa lama,seminggu dua (barangkali), Si Suara dah tak perlukan lagi kuping Si Telinga, sayangnya, Si Telinga tetap menerus-dan-terus memberi pinjam kupingnya kepada Si Suara,dengan alasannya,
"kalau perlu,gunakan saya.kalau menyampah,buang saja.kalau tak suka,mamah-lah sampai ke tua"

dan,Si Telinga rasa dah terbiasa hidup tanpa kupingnya,kerana dia rasa dia tak perlukan kupingnya,kalau gegendang masih ada,masih bisa bergetar,dan terus menghantar.

lalu,hidupnya Si Telinga dengan Si Mulut, berjalan seperti biasa,malah makin luar biasa.
hingga pernah dan selalu,Si Mulut perdengarkan kepada Si Telinga,
"saya sayangkan awak,lebih daripada apa yang awak anggap,"

Si Telinga terus-menerus mendapat sayang (yang tak tahu itu kasih sayang,atau sekadar cuma bayang-bayang) ,tapi dalam hati Si Telinga,dianggapnya Si Mulut melebihi segala-galanya,melebihi Si Suara.

kehidupan yang makin gembira,makin ketawa,makin bersama,
membuat Si Telinga terus melupakan Si Suara,dan melekat erat pada Si Mulut,yang bicaranya manis,bahasanya tak sinis,harapannya tak sedikitpun berbau hamis,
semuanya sempurna bagi Si Telinga,yang seringnya mendengar setiap butir suka atau duka dari Si Mulut, yang hatinya terlalu tulus.

tapi,
yang hidup akan mati,
yang baru menjadi lama,
yang senyum hilang manisnya,
yang ketawa hilang puncanya,
yang mula ada akhirnya.
semua tak kekal lama,melainkan Dia,Yang Maha Esa.

Si Mulut, pantas dengan namanya mulut, kadang bukan guna hati untuk bercerita,bukan guna jujur untuk bercinta,bukan guna tulus untuk menyatakan apa adanya.
sudah pun di-kata,mulut akan ditutup bila di-soal di akhirat sana.
kerna apa? mulut tak lekang dari berbicara yang dusta kalau lupa siapa hatinya.

kegembiraan yang sementara cuma,adalah sebuah lukisan halus-halus,tanpa warna,cumanya karbon dari mata pena; hitam&putih,namun lukisan-nya tetap masih ada,masih dicorat-corat biar kelihatan sempurna di mata semua; di mata semua.

Si Telinga yang mendengar segala-macam perkara,dah mematikan sistem hatinya,dan memotong apa yang menyambung ke saluran dengarnya--getaran.

kepada Si Mulut; kau ada baik-nya,kau baik dalam meluahkan segala-gala yang tak di-punya Si Telinga, kau terbaik dalam membikin isi kandungan cerita,dan sekarang,menjadi najis dalam Si Telinga, najis--percuma.